SHIROTUS SALAAM, dari lereng lawu untuk alam yang dirahmati Allah..
1. TAUBAT
Ibnu Abbas radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam satu majlis sebanyak seratus kali:
ROBBIGFIRLI WA TUB’ALAIYA INNAKA ANTAT TAW WABUR ROHIIM.
"Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun."
(HR. Abu Daud)
AN NUUR 31. bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya ALLAH memberikan baginya jalan keluar untuk setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan ALLAH akan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim dan dishahihkan Syekh Ahmad Muhammad Syakir).
2. TASBIH
QS QOF 39 : Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu seblum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.
QS Al Mukmin 55 : Bertasbihlah kepada Tuhan dengan tahmid waktu sore dan waktu pagi.
Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang membaca ketika pagi dan sore : Subhanallohi wabi khamdihi 100x, maka tiada yang lebih utama daripadanya di hari qiyamat kecuali orang yang melakukan seperti itu atau melebihi daripadanya. [HR Muslim] –Sehingga amalkan bertasbih yang lengkap: Subhanalloh walkhamdulillah, wa laa ilaha ilalloh wallohu akbar, laa khaula walaa quata ila billahil aliyil adiim--
3. SHOLAWAT
Seseorang bertanya kepada Rasulullah: Yaa Rasulullah, bagaimana jika saya jadikan semua waktuku untuk membaca sholawat kepadamu? Jawab rasullullah: Jika sedemikian maka dihindarkan oleh Allah segala kerisauan dunia akheratmu.
4. TAUHID
Allohu wahdah laa syarikallah lhul mulku walahul khamdu, yuhyii wamumiitu wahuwa ala kulli syai’ing qodiir. 100x siang, 100x malam
"Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa) dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya."
(QS 18.Al Kahfi: 110).
Lereng Lawu - 2010
Kamis, 28 April 2011
Jumat, 08 April 2011
Berdoa yang indah . . .
Sedikit sedikitlah berdoa, bila perlu tak usah! Itulah saran kontroversial yang bisa saya sampaikan untuk anda. Pada kenyataannya banyak orang yang berdoa tidak meminta, sebaliknya orang yang meminta sesungguhnya telah memanjatkan doanya. Saya cenderung memilih kata ‘pinta’ dibandingkan kata ‘doa’ sebagai sesuatu yang dipanjatkan kehadirat Tuhan.
Secara harfiah doa yang saya pahami adalah permintaan, harapan yang didahului puja puji kepada Tuhan. Sejatinya doa yang disampaikan itu adalah sesuatu yang pasti dimengerti oleh si peminta, demikanlah terminology dasar sebuah doa. Namun agaknya terminology tersebut telah berkembang menjadi ‘atas segala sesuatu yang dipanjatkan ke Tuhan adalah sebuah doa’ terlepas dimengerti atau tidak oleh si empunya doa. Disinilah letak permasalahan antara doa dan pinta yang saya coba jelaskan.
Pada zaman nabi nabi, doa dipanjatkan berdasar kebutuhan si pendoa yang dikomunikasikan dengan bahasa yang dimengerti yaitu bahasa mereka sendiri. Beberapa doa mereka berhasil diriwayatkan dengan sangat baik oleh para ahli rawi bahkan doa doa RasuluLLAH sendiri berhasil di rangkumkan menjadi sebuah buku ‘kumpulan mutiara doa doa rasuluLLAH dan sejenisnya’ dan hari ini generasi kita sibuk menghapal doa doa tersebut dan mencoba melafazkan sefasih mungkin sehingga tanpa sadar kita mencoba menyamakan kapasitas diri dengan kapasitas nabi dengan melafazkan doa doa beliau yang notabene adalah kebutuhan Nabi yang dipintakan sebagai pengemban misi utusan ALLAH bagi umat dan alam.. Atau semua kita mengadahkan tangan sambil berucap amin.. amin.. sebagai harapan dikabulkannya doa yang dibacakan oleh ustad pada acara acara selamatan di kelurahan maupun khanduri di rumah, apalagi di dalam mesjid waktu jumatan atau usai shalat magrib saat berdoa bersama. Sesungguhnya apa yang di doa oleh si pendoa? Mengertikah kita? Anggaplah kita mengerti bahasa arab, lalu apakah yang di dalam doa orang lain tersebut juga merupakan kebutuhan kita? Atau haruskah doa selalu dalam bahasa arab?
Tentu saja Tuhan sangat mengerti apa yang anda komunikasikan dalam bahasa apapun itu, masalahnya adalah jika anda sendiri tidak tahu apa yang anda pinta lalu anda berharap Tuhan mengabulkannya???? Guru saya mengatakan ‘kalau kamu berdoa dalam bahasa arab yang kamu tidak mengerti, itu kedengaran seperti orang bergumam hmm.. hmm.. atau nye..nye..nye.. apa yang kau omongkan, kalau bicara sama Tuhan bicaralah yang mesra! pakai bahasa ibu-mu (bahasa yang kau gunakan sehari hari yang pasti kau mengerti!)
Dalam suatu seminar motivasi bisnis yang pernah saya ikuti, si pembicara yang telah kaya raya menjadi pengusaha sukses dan memiliki banyak bidang usaha mengatakan ‘Tuhan itu transaksional, jadi kalau anda meminta kepada Tuhan mintalah yang jelas, jangan hanya sekedar Rabbana atina fiddunnya hasanah… terlalu global, bicaralah yang transaksional semisal oh Tuhan.. mobil Mercedes baru yang seri S itu cakep banget Tuhan.., membuat saya tergila gila, mau dong Tuhan.. tolonglah Tuhan kasi saya satu yang warna abu-abu..’. Ternyata selain harus mengerti pinta yang kita panjatkan agaknya harus jelas dan detil sebagaimana yang sebenarnya kita butuhkan agar Tuhan mengabulkan persis sesuai keinginan pinta kita. Abang saya bahkan pernah menunjukkan cara ’meminta’ yang sangat jelas dengan berkata ’bila kau ingin mobil seperti yang ada di majalah itu, ambil gambarnya dan mintalah kepada TUHAN dan tunjukkan gambarnya, TUHAN.. aku mau mobil yang seperti ini.. Tolonglah beri aku yang seperti ini TUHAN.. sambil jari yang menunjuk pada gambar mobil tersebut.
Kita kembali ke ’pinta’ dan mendalami apa hakikat dari ’pinta’ yang kita panjatkan. Saya teringat sebuah cerita ketika saya masih kanak kanak dulu tentang Aladin dengan lampu ajaibnya. (cerita disingkatkan) Si Aladin mendapat lampu ajaib, menggosoknya lalu keluarlah jin si penghuni lampu dan menawarkan kepada Aladin bahwa si jin akan mengabulkan 3 permintaannya. Cerita berlanjut dan si jin sudah mengabulkan 3 permintaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah si Aladin sudah cukup puas ketika sudah dikabulkan 3 permintaan oleh si jin penghuni lampu? Kenapa ia berusaha mendapatkan kembali ketika lampu tersebut di curi oleh orang lain walaupun permintaannya sudah dikabulkan? Saya dan anda mungkin akan berperilaku sama dengan si Aladin dalam upaya memperoleh kembali ’sumber’nya si lampu ajaib. Jika saya analogikan cerita itu dengan diri anda apakah anda sudah cukup puas bila ‘segala sesuatu yang anda pinta’ dikabulkan oleh Tuhan? Kuat dugaan saya anda akan berusaha keras untuk menguasai sourcenya seperti Aladin. Ketika anda sudah menguasai biangnya, apakah anda masih memerlukan yang lain? Pahamkah anda ketika Abu Bakar Shiddiq RA membawa seluruh hartanya dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi untuk dibelanjakan di jalan ALLAH lalu Nabi bertanya kepada beliau ‘apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar?’ Abu Bakar Shiddiq RA menjawab ‘aku tinggalkan ALLAH dan RASULNYA’, (baca : perlombaan antara umar dan abu bakar). Ya.. Abu Bakar tidak memerlukan yang lainnya! Abu Bakar telah memiliki sumbernya yaitu ALLAH dan RASULNYA. Dengan bahasa lain ’Abu Bakar tidak perlu harta lagi karena sudah memiliki ”SUMBER HARTA”’.
Saudara, pinta pada hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, adalah curhat, menyampaikan keluh kesah, kasih mengasihi, meminta dan memberi, bukankah itu merupakan sesuatu hal yang dikatakan mesra?. Seperti cerita di atas ketika Tuhan mengabulkan pinta kita lalu dengan nafsu manusiawi serakah, kita ingin menguasai sumbernya. Tanyalah pada diri anda sendiri anda ingin apa, setelah hal itu dikabulkan anda mau apa lagi, setelah itu apa lagi… jadi pada intinya yang kita inginkan bukanlah harta, tahta, wanita atau apapun.. melainkan TUHAN itu sendiri!. Itulah hakikat yang sebenarnya walau banyak manusia yang merasa telah cukup puas ketika pintanya dikabulkan lalu melupakan bahkan menjauh dari Tuhan, yang memberikan segala keinginannya.. ironis!
Secara harfiah doa yang saya pahami adalah permintaan, harapan yang didahului puja puji kepada Tuhan. Sejatinya doa yang disampaikan itu adalah sesuatu yang pasti dimengerti oleh si peminta, demikanlah terminology dasar sebuah doa. Namun agaknya terminology tersebut telah berkembang menjadi ‘atas segala sesuatu yang dipanjatkan ke Tuhan adalah sebuah doa’ terlepas dimengerti atau tidak oleh si empunya doa. Disinilah letak permasalahan antara doa dan pinta yang saya coba jelaskan.
Pada zaman nabi nabi, doa dipanjatkan berdasar kebutuhan si pendoa yang dikomunikasikan dengan bahasa yang dimengerti yaitu bahasa mereka sendiri. Beberapa doa mereka berhasil diriwayatkan dengan sangat baik oleh para ahli rawi bahkan doa doa RasuluLLAH sendiri berhasil di rangkumkan menjadi sebuah buku ‘kumpulan mutiara doa doa rasuluLLAH dan sejenisnya’ dan hari ini generasi kita sibuk menghapal doa doa tersebut dan mencoba melafazkan sefasih mungkin sehingga tanpa sadar kita mencoba menyamakan kapasitas diri dengan kapasitas nabi dengan melafazkan doa doa beliau yang notabene adalah kebutuhan Nabi yang dipintakan sebagai pengemban misi utusan ALLAH bagi umat dan alam.. Atau semua kita mengadahkan tangan sambil berucap amin.. amin.. sebagai harapan dikabulkannya doa yang dibacakan oleh ustad pada acara acara selamatan di kelurahan maupun khanduri di rumah, apalagi di dalam mesjid waktu jumatan atau usai shalat magrib saat berdoa bersama. Sesungguhnya apa yang di doa oleh si pendoa? Mengertikah kita? Anggaplah kita mengerti bahasa arab, lalu apakah yang di dalam doa orang lain tersebut juga merupakan kebutuhan kita? Atau haruskah doa selalu dalam bahasa arab?
Tentu saja Tuhan sangat mengerti apa yang anda komunikasikan dalam bahasa apapun itu, masalahnya adalah jika anda sendiri tidak tahu apa yang anda pinta lalu anda berharap Tuhan mengabulkannya???? Guru saya mengatakan ‘kalau kamu berdoa dalam bahasa arab yang kamu tidak mengerti, itu kedengaran seperti orang bergumam hmm.. hmm.. atau nye..nye..nye.. apa yang kau omongkan, kalau bicara sama Tuhan bicaralah yang mesra! pakai bahasa ibu-mu (bahasa yang kau gunakan sehari hari yang pasti kau mengerti!)
Dalam suatu seminar motivasi bisnis yang pernah saya ikuti, si pembicara yang telah kaya raya menjadi pengusaha sukses dan memiliki banyak bidang usaha mengatakan ‘Tuhan itu transaksional, jadi kalau anda meminta kepada Tuhan mintalah yang jelas, jangan hanya sekedar Rabbana atina fiddunnya hasanah… terlalu global, bicaralah yang transaksional semisal oh Tuhan.. mobil Mercedes baru yang seri S itu cakep banget Tuhan.., membuat saya tergila gila, mau dong Tuhan.. tolonglah Tuhan kasi saya satu yang warna abu-abu..’. Ternyata selain harus mengerti pinta yang kita panjatkan agaknya harus jelas dan detil sebagaimana yang sebenarnya kita butuhkan agar Tuhan mengabulkan persis sesuai keinginan pinta kita. Abang saya bahkan pernah menunjukkan cara ’meminta’ yang sangat jelas dengan berkata ’bila kau ingin mobil seperti yang ada di majalah itu, ambil gambarnya dan mintalah kepada TUHAN dan tunjukkan gambarnya, TUHAN.. aku mau mobil yang seperti ini.. Tolonglah beri aku yang seperti ini TUHAN.. sambil jari yang menunjuk pada gambar mobil tersebut.
Kita kembali ke ’pinta’ dan mendalami apa hakikat dari ’pinta’ yang kita panjatkan. Saya teringat sebuah cerita ketika saya masih kanak kanak dulu tentang Aladin dengan lampu ajaibnya. (cerita disingkatkan) Si Aladin mendapat lampu ajaib, menggosoknya lalu keluarlah jin si penghuni lampu dan menawarkan kepada Aladin bahwa si jin akan mengabulkan 3 permintaannya. Cerita berlanjut dan si jin sudah mengabulkan 3 permintaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah si Aladin sudah cukup puas ketika sudah dikabulkan 3 permintaan oleh si jin penghuni lampu? Kenapa ia berusaha mendapatkan kembali ketika lampu tersebut di curi oleh orang lain walaupun permintaannya sudah dikabulkan? Saya dan anda mungkin akan berperilaku sama dengan si Aladin dalam upaya memperoleh kembali ’sumber’nya si lampu ajaib. Jika saya analogikan cerita itu dengan diri anda apakah anda sudah cukup puas bila ‘segala sesuatu yang anda pinta’ dikabulkan oleh Tuhan? Kuat dugaan saya anda akan berusaha keras untuk menguasai sourcenya seperti Aladin. Ketika anda sudah menguasai biangnya, apakah anda masih memerlukan yang lain? Pahamkah anda ketika Abu Bakar Shiddiq RA membawa seluruh hartanya dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi untuk dibelanjakan di jalan ALLAH lalu Nabi bertanya kepada beliau ‘apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar?’ Abu Bakar Shiddiq RA menjawab ‘aku tinggalkan ALLAH dan RASULNYA’, (baca : perlombaan antara umar dan abu bakar). Ya.. Abu Bakar tidak memerlukan yang lainnya! Abu Bakar telah memiliki sumbernya yaitu ALLAH dan RASULNYA. Dengan bahasa lain ’Abu Bakar tidak perlu harta lagi karena sudah memiliki ”SUMBER HARTA”’.
Saudara, pinta pada hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, adalah curhat, menyampaikan keluh kesah, kasih mengasihi, meminta dan memberi, bukankah itu merupakan sesuatu hal yang dikatakan mesra?. Seperti cerita di atas ketika Tuhan mengabulkan pinta kita lalu dengan nafsu manusiawi serakah, kita ingin menguasai sumbernya. Tanyalah pada diri anda sendiri anda ingin apa, setelah hal itu dikabulkan anda mau apa lagi, setelah itu apa lagi… jadi pada intinya yang kita inginkan bukanlah harta, tahta, wanita atau apapun.. melainkan TUHAN itu sendiri!. Itulah hakikat yang sebenarnya walau banyak manusia yang merasa telah cukup puas ketika pintanya dikabulkan lalu melupakan bahkan menjauh dari Tuhan, yang memberikan segala keinginannya.. ironis!
Minggu, 27 Maret 2011
Nak.. dengarkan nasehat indah ini..
Kendalikan nafsu anda bersama Allah swt, jangan bersama dirimu. Segala hal apa pun yang berat akan tersa ringan jika bersama Allah swt. Dan yang ringan pun terasa berat jika bersama dirimu, mengandalkan kemampuanmu, dan anda merasa bisa. Maka semua jadi berat.
Anda harus tegas pada diri sendiri, dan harus berani menjadikan nafsu anda sebagai musuh terbesarmu. Bahkan lebih hebat disbanding syetan atau makhluk lainnya.
Iklaslah dalam beribadah. Lillah, jangan karena selain Allah. Ingatlah tiga suku kata: Dari Allah, Bersama Allah hanya bagi dan menuju Allah swt. Huwalloh hayyul qoyyum..
Anda harus tegas pada diri sendiri, dan harus berani menjadikan nafsu anda sebagai musuh terbesarmu. Bahkan lebih hebat disbanding syetan atau makhluk lainnya.
Iklaslah dalam beribadah. Lillah, jangan karena selain Allah. Ingatlah tiga suku kata: Dari Allah, Bersama Allah hanya bagi dan menuju Allah swt. Huwalloh hayyul qoyyum..
Jumat, 14 Januari 2011
Umur panjang ..
Umur panjang merupakan karunia Allah swt kepada hambaNya. Umur panjang yang dimaksud bukan dalam pengertian sepanjang penanggalan tetapi yang dimaksud umur panjang adalah bagaimana orang tersebut meskipun sudah meninggal tetapi dikenang dan tetap bersambung antara keluarga yang meninggal dengan yang ditinggalkannya. Peran anak sholeh yang bagaimanakah yang bisa memanjangkan umur orang tua ini , berikut adalah uraian dari KH. Aris Ni'matullah yang dihimpun Redaksi.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw besabda: "Barangsiapa yang menginginkan rezekinya dimudahkan dan usianya dipanjangkan maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud Ahmad bin Hambal)
Kita wajib bersyukur kepada Allah swt karena mengirimkan perasaan kasih sayang yang dalam terhadap anak-anak di setiap dada para orang tuanya. Demikian pula anak yang sholeh di dadanya ditanamkan Allah perasaan untuk selalu ingin berbuat terbaik bagi kedua orang tuanya baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal.
Bermula dari keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak ini melahirkan kebaikan sosial masyarakat. Allah dan Rasul-Nya memuji keharmo nisan hubungan ini, sehingga seolah-olah surga terletak di bawah telapak kaki para ibu. Bagaimana upaya memanjang kan umur orang tua agar terus-menerus terjalin hubungan harmonis, meskipun orang tua sudah tiada. Adakah cara yang efektif untuk tetap bersilaturahmi kepada mereka?
Dalam kitab Bujairimi, dan banyak kitab lain mengupasnya misalnya kitab Irsyadul Ibad diceritakan bagaimana mimpi seorang ulama yang mampu melihat orang-orang yang meninggal di alam barzah beserta suka-dukanya. Dalam mimpi itu orang alim ini bertemu dengan para arwah yang telah mendahuluinya ada yang dikenal ada yang tidak. Suatu ketika dalam mimpi itu bertemu dengan orang-orang yang tengah berebut makanan yang datang kepada mereka secara rutin.
Rupaya mereka sering sekali mendapat kiriman namun tidak ditujukan pada seseorang. Rupaanya orang alim ini memahami bahwa kiriman itu diketahui berasal dari orang-orang yang masih hidup yang membacakan do'a untuk muslimin dan muslimat, atau membacakan ayat-ayat al Quran dan lain-lain. Pada salah satu tempat, ada seorang laki-laki yang tenang-tenang saja tidak ikut berebutan makanan padahal yang lain saling mendahului untuk mendapatkannya.
Untuk menghilangkan rasa penasaran, masih dalam mimpi itu, orang alim ini mendatanginya dan bertanya: "Mengapa bapak tidak ikut berebut makanan dengan yang lainnya, apa ada kesulitan untuk ikut serta mereka?".
Lalu si Bapak ini menjawab: "Saya tidak perlu ikut berebut makanan dengan mereka sebab anakku sudah terbiasa mengirim pahala membaca Al Qur'an secara rutin Aku merasa bahagia dan merasa cukup dengan doa-doa dan bacaan Al Quran yang dibacakan oleh anakku.", "Memangnya bapak ini siapa namanya, dan siapa nama anak bapak itu dan dimana alamatnya, jika diizinkan saya akan mengunjunginya."
"Dengan bangga Bapak itu memberi tahu alamat dan nama anaknya." Benar saja, ketika sadar dari mimpinya, orang alim ini buru-buru mencari alamat anak tersebut dan anehnya, persis tepat apa yang ada dalam mimpi tersebut.
Ketika dikonfirmasi betapa kagetnya, sebab nama orang yang ditemui di dalam mimpi dan ciri-cirinya persis seperti yang diceritakan anak itu. Lalu ketika ditanyakan benarkah suka membaca do'a dan Al Qur'an ditujukan kepada orang tuanya, sia anak dengan penuh bangga membenarkannya.
Kebenaran Sebuah Mimpi
Dalam kitab Raudhatun Nadziroh Tatlubul Akhiroh, pada hadits no. 688 dan 689 disebutkan bahwa menurut Rasulullah saw mimpi bagi orang alim (sholeh) merupakan 1/46 sifat nubuwah dan dipastikan berasal dari Allah swt. Artinya merupakan sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang alim mirip wahyu/mu'jizat yang diturunkan Allah kepada nabi dan Rasul-Nya.
عَنْ أَنَسٍ رَضِى الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلرُّؤْيَا الْحَسَنَةَ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا. (رواه البخاري
Artinya: "Dari Anas ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Mimpi baik dari seorang laki-laki yang sholeh merupakan 1/46 bagian."
عَنْ ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ اِلاَّ الْمُبَشِّرَاتِ قَالُوْا وَمَا الْمُبَشِّرَاتِ؟ قَالَ: اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةِ. (رواه البخاري
Artinya: dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Belum cukup memiliki sifat nubuwah kecuali telah memiliki mubasyirot. Para sahabat bertanya apakah mubasyirot itu? Rasul menjawab: "Mimpi yang baik" (HR. Bukhory)
Dalam kitab Shoheh Bukhory hadits no. 6469 Rasulullah saw bersabda bahwa mimpi yang baik adalah berasal dari Allah dan mimpi jelek berasal dari syetan.
Hakekat Panjang Umur
Dari peristiwa yang terdapat dalam kitab Bujairimi dan kitab Irsyadul Ibad juga dibernarkan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya, ternyata bersilaturahmi kepada orang tua yang sudah meninggal sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan mereka.
Inilah makna hakekat dari dipanjangkan umurnya. Menurut kitab ini, panjang umur adalah memiliki anak yang sholeh. Seperti dalam hadits tentang warisan anak soleh akan selalu mendoakan dan mengirimkan hadiah untuk orang tuanya. Bagaimana dengan Anda sudahkah selalu bersilaturahmi dengan orang tua yang masih hidup dan yang sudah wafat? Wallahu a'lam.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw besabda: "Barangsiapa yang menginginkan rezekinya dimudahkan dan usianya dipanjangkan maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud Ahmad bin Hambal)
Kita wajib bersyukur kepada Allah swt karena mengirimkan perasaan kasih sayang yang dalam terhadap anak-anak di setiap dada para orang tuanya. Demikian pula anak yang sholeh di dadanya ditanamkan Allah perasaan untuk selalu ingin berbuat terbaik bagi kedua orang tuanya baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal.
Bermula dari keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak ini melahirkan kebaikan sosial masyarakat. Allah dan Rasul-Nya memuji keharmo nisan hubungan ini, sehingga seolah-olah surga terletak di bawah telapak kaki para ibu. Bagaimana upaya memanjang kan umur orang tua agar terus-menerus terjalin hubungan harmonis, meskipun orang tua sudah tiada. Adakah cara yang efektif untuk tetap bersilaturahmi kepada mereka?
Dalam kitab Bujairimi, dan banyak kitab lain mengupasnya misalnya kitab Irsyadul Ibad diceritakan bagaimana mimpi seorang ulama yang mampu melihat orang-orang yang meninggal di alam barzah beserta suka-dukanya. Dalam mimpi itu orang alim ini bertemu dengan para arwah yang telah mendahuluinya ada yang dikenal ada yang tidak. Suatu ketika dalam mimpi itu bertemu dengan orang-orang yang tengah berebut makanan yang datang kepada mereka secara rutin.
Rupaya mereka sering sekali mendapat kiriman namun tidak ditujukan pada seseorang. Rupaanya orang alim ini memahami bahwa kiriman itu diketahui berasal dari orang-orang yang masih hidup yang membacakan do'a untuk muslimin dan muslimat, atau membacakan ayat-ayat al Quran dan lain-lain. Pada salah satu tempat, ada seorang laki-laki yang tenang-tenang saja tidak ikut berebutan makanan padahal yang lain saling mendahului untuk mendapatkannya.
Untuk menghilangkan rasa penasaran, masih dalam mimpi itu, orang alim ini mendatanginya dan bertanya: "Mengapa bapak tidak ikut berebut makanan dengan yang lainnya, apa ada kesulitan untuk ikut serta mereka?".
Lalu si Bapak ini menjawab: "Saya tidak perlu ikut berebut makanan dengan mereka sebab anakku sudah terbiasa mengirim pahala membaca Al Qur'an secara rutin Aku merasa bahagia dan merasa cukup dengan doa-doa dan bacaan Al Quran yang dibacakan oleh anakku.", "Memangnya bapak ini siapa namanya, dan siapa nama anak bapak itu dan dimana alamatnya, jika diizinkan saya akan mengunjunginya."
"Dengan bangga Bapak itu memberi tahu alamat dan nama anaknya." Benar saja, ketika sadar dari mimpinya, orang alim ini buru-buru mencari alamat anak tersebut dan anehnya, persis tepat apa yang ada dalam mimpi tersebut.
Ketika dikonfirmasi betapa kagetnya, sebab nama orang yang ditemui di dalam mimpi dan ciri-cirinya persis seperti yang diceritakan anak itu. Lalu ketika ditanyakan benarkah suka membaca do'a dan Al Qur'an ditujukan kepada orang tuanya, sia anak dengan penuh bangga membenarkannya.
Kebenaran Sebuah Mimpi
Dalam kitab Raudhatun Nadziroh Tatlubul Akhiroh, pada hadits no. 688 dan 689 disebutkan bahwa menurut Rasulullah saw mimpi bagi orang alim (sholeh) merupakan 1/46 sifat nubuwah dan dipastikan berasal dari Allah swt. Artinya merupakan sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang alim mirip wahyu/mu'jizat yang diturunkan Allah kepada nabi dan Rasul-Nya.
عَنْ أَنَسٍ رَضِى الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلرُّؤْيَا الْحَسَنَةَ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا. (رواه البخاري
Artinya: "Dari Anas ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Mimpi baik dari seorang laki-laki yang sholeh merupakan 1/46 bagian."
عَنْ ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ اِلاَّ الْمُبَشِّرَاتِ قَالُوْا وَمَا الْمُبَشِّرَاتِ؟ قَالَ: اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةِ. (رواه البخاري
Artinya: dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Belum cukup memiliki sifat nubuwah kecuali telah memiliki mubasyirot. Para sahabat bertanya apakah mubasyirot itu? Rasul menjawab: "Mimpi yang baik" (HR. Bukhory)
Dalam kitab Shoheh Bukhory hadits no. 6469 Rasulullah saw bersabda bahwa mimpi yang baik adalah berasal dari Allah dan mimpi jelek berasal dari syetan.
Hakekat Panjang Umur
Dari peristiwa yang terdapat dalam kitab Bujairimi dan kitab Irsyadul Ibad juga dibernarkan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya, ternyata bersilaturahmi kepada orang tua yang sudah meninggal sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan mereka.
Inilah makna hakekat dari dipanjangkan umurnya. Menurut kitab ini, panjang umur adalah memiliki anak yang sholeh. Seperti dalam hadits tentang warisan anak soleh akan selalu mendoakan dan mengirimkan hadiah untuk orang tuanya. Bagaimana dengan Anda sudahkah selalu bersilaturahmi dengan orang tua yang masih hidup dan yang sudah wafat? Wallahu a'lam.
Kamis, 13 Januari 2011
Contoh Terbaik dari Mbah Maridjan..
RABU, 27 OKTOBER 2010 15:47 MUBAROK HASANUDDIN
DetikNews - Jakarta - Hari ini kita mendengar berita, Mbah Maridjan menjadi salah satu korban dari letusan Gunung Merapi Yogyakarta. Konon ia ditemukan meninggal dalam rumahnya di Dusun Kinahrejo dalam posisi bersujud. Mbah Marijan telah memberikan contoh terbaik kepada kita tentang bagaimana memegang komitmen dan tanggungjawab dalam menjalankan tugas yang diembannya sebagai penjaga Merapi.
Saya ingin mengajak kita mengenang dan memetik pelajaran mendasar dari sikap heroisme Mbah Maridjan dalam menghadapi letusan Gunung Merapi pada pertengahan tahun 2006 lalu. Saat itu ketika orang ramai-ramai turun dari lereng Merapi, Mbah Maridjan justru naik mendekati puncaknya. Tidak tanggung-tanggung, hanya berjarak 2 (dua) km dari kawahnya! Sosok tua bersahaja ini mencoba ikut 'menjinakkan' Merapi dengan caranya sendiri yang unik.
Mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi begitu mencintai tugasnya dengan tetap memilih 'menjaga' Merapi dari dekat sekalipun pemerintah telah menghimbaunya untuk segera mengungsi. Bahkan seorang Gus Dur dan Gusti Joyo (Adik Sri Sultan HB X) juga tidak berhasil 'merayu'-nya turun. Banyak orang menyayangkan sikap Mbah Maridjan ini, tetapi tampaknya ia lebih menyayangi Merapi daripada harus ikut mengungsi. Setidaknya ada empat hal yang bisa kita catat dari sikap Mbah Maridjan tersebut.
Mbah Maridjan memberikan contoh kepada kita tentang bagaimana sebuah tanggung jawab yang dipegang teguh selama menjalankan tugas dan pekerjaannya. Seperti petugas pemadam kebakaran yang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api, begitu pula Mbah Maridjan yang rela menantang maut demi menjalankan tugasnya sebagai juru kunci Merapi. Satu sikap yang belakangan tidak mudah ditemukan dalam diri pejabat publik kita. Saat ini banyak orang yang sudah tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diembannya secara amanah. Anggota DPR yang tidur saat sidang atau bahkan tidak pernah menghadiri sidang, sipir penjara yang berkolusi membebaskan narapidana, polisi yang tidak menjaga letusan senjatanya, jaksa yang menjual tuntutan demi meraih ratusan juta bahkan miliaran rupiah, hakim yang tidak menjalankan tugas undang-undang untuk menghadirkan saksi penting, dan banyak lagi contoh drama pengingkaran tanggung jawab yang dimainkan oleh pejabat publik di negeri ini.
Mbah Maridjan juga memberikan motivasi kepada kita bagaimana sebuah keberanian diperlukan untuk 'melawan' kekuatan (baca:tekanan) yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Mungkin sebagian orang akan memberi label sebagai orang yang 'mbalelo, keras kepala, ngeyel, dsb'. Semua label tersebut salah besar bila dilekatkan kepada sosok Mbah Maridjan. Baginya mengungsi bukanlah jalan terbaik untuk terhindar dari bencana. Bila sebagian orang melihatnya sebagai bentuk irrasionalitas, justru sikap 'bertahan' Mbah Maridjan adalah yang paling rasional. Saat itu, sebagian besar masyarakat lereng Merapi enggan mengungsi karena khawatir akan kehilangan sumber penghidupan. Padi yang sedang mulai menguning, jagung yang mulai tampak ranum dan hewan ternak yang mulai beranak pinak adalah aset penyangga hidup mereka selama ini. Siapa yang akan menjamin aset tersebut tidak akan hilang atau dicuri orang apabila harus ditinggal mengungsi? Ini bukan soal mbalelo, keras kepala, atau ngeyel. Ini adalah soal bagaimana masyarakat Merapi harus bertahan hidup, tidak hanya dari bahaya letusan Merapi tetapi dari bahaya paceklik dan kemiskinan setelah Merapi meletus. Satu sikap yang sangat rasional bukan?
Selain itu Mbah Maridjan telah menjadi inspirasi kepada kita untuk bisa membedakan penggunaan kekuasaan pada tempatnya. Ketika itu, Ia hanya akan mau turun kalau diperintahkan oleh Raja Yogya yang memberinya tugas sebagai juru kunci. Sekalipun yang menyuruh Sri Sultan HB X, tetapi Mbah Maridjan meyakini bahwa saat itu kapasitasnya sebagai Gubernur DI Yogyakarta, sehingga ia tidak akan mengikuti himbauan tersebut karena mandatnya sebagai penjaga Merapi diperoleh dari Raja, bukan Gubernur. Sehingga dalam hal ini Mbah Maridjan sama sekali tidak merasa membangkang. Baginya ketetapan untuk tidak mengungsi dan bertahan di lereng Merapi adalah untuk membantu tugas pemerintah menyelamatkan warga.
Selamat jalan Mbah Maridjan, engkau telah memberikan contoh terbaik kepada kami tentang komitmen, konsistensi dan keteguhan hati. (vit/vit)
DetikNews - Jakarta - Hari ini kita mendengar berita, Mbah Maridjan menjadi salah satu korban dari letusan Gunung Merapi Yogyakarta. Konon ia ditemukan meninggal dalam rumahnya di Dusun Kinahrejo dalam posisi bersujud. Mbah Marijan telah memberikan contoh terbaik kepada kita tentang bagaimana memegang komitmen dan tanggungjawab dalam menjalankan tugas yang diembannya sebagai penjaga Merapi.
Saya ingin mengajak kita mengenang dan memetik pelajaran mendasar dari sikap heroisme Mbah Maridjan dalam menghadapi letusan Gunung Merapi pada pertengahan tahun 2006 lalu. Saat itu ketika orang ramai-ramai turun dari lereng Merapi, Mbah Maridjan justru naik mendekati puncaknya. Tidak tanggung-tanggung, hanya berjarak 2 (dua) km dari kawahnya! Sosok tua bersahaja ini mencoba ikut 'menjinakkan' Merapi dengan caranya sendiri yang unik.
Mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi begitu mencintai tugasnya dengan tetap memilih 'menjaga' Merapi dari dekat sekalipun pemerintah telah menghimbaunya untuk segera mengungsi. Bahkan seorang Gus Dur dan Gusti Joyo (Adik Sri Sultan HB X) juga tidak berhasil 'merayu'-nya turun. Banyak orang menyayangkan sikap Mbah Maridjan ini, tetapi tampaknya ia lebih menyayangi Merapi daripada harus ikut mengungsi. Setidaknya ada empat hal yang bisa kita catat dari sikap Mbah Maridjan tersebut.
Mbah Maridjan memberikan contoh kepada kita tentang bagaimana sebuah tanggung jawab yang dipegang teguh selama menjalankan tugas dan pekerjaannya. Seperti petugas pemadam kebakaran yang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api, begitu pula Mbah Maridjan yang rela menantang maut demi menjalankan tugasnya sebagai juru kunci Merapi. Satu sikap yang belakangan tidak mudah ditemukan dalam diri pejabat publik kita. Saat ini banyak orang yang sudah tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diembannya secara amanah. Anggota DPR yang tidur saat sidang atau bahkan tidak pernah menghadiri sidang, sipir penjara yang berkolusi membebaskan narapidana, polisi yang tidak menjaga letusan senjatanya, jaksa yang menjual tuntutan demi meraih ratusan juta bahkan miliaran rupiah, hakim yang tidak menjalankan tugas undang-undang untuk menghadirkan saksi penting, dan banyak lagi contoh drama pengingkaran tanggung jawab yang dimainkan oleh pejabat publik di negeri ini.
Mbah Maridjan juga memberikan motivasi kepada kita bagaimana sebuah keberanian diperlukan untuk 'melawan' kekuatan (baca:tekanan) yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Mungkin sebagian orang akan memberi label sebagai orang yang 'mbalelo, keras kepala, ngeyel, dsb'. Semua label tersebut salah besar bila dilekatkan kepada sosok Mbah Maridjan. Baginya mengungsi bukanlah jalan terbaik untuk terhindar dari bencana. Bila sebagian orang melihatnya sebagai bentuk irrasionalitas, justru sikap 'bertahan' Mbah Maridjan adalah yang paling rasional. Saat itu, sebagian besar masyarakat lereng Merapi enggan mengungsi karena khawatir akan kehilangan sumber penghidupan. Padi yang sedang mulai menguning, jagung yang mulai tampak ranum dan hewan ternak yang mulai beranak pinak adalah aset penyangga hidup mereka selama ini. Siapa yang akan menjamin aset tersebut tidak akan hilang atau dicuri orang apabila harus ditinggal mengungsi? Ini bukan soal mbalelo, keras kepala, atau ngeyel. Ini adalah soal bagaimana masyarakat Merapi harus bertahan hidup, tidak hanya dari bahaya letusan Merapi tetapi dari bahaya paceklik dan kemiskinan setelah Merapi meletus. Satu sikap yang sangat rasional bukan?
Selain itu Mbah Maridjan telah menjadi inspirasi kepada kita untuk bisa membedakan penggunaan kekuasaan pada tempatnya. Ketika itu, Ia hanya akan mau turun kalau diperintahkan oleh Raja Yogya yang memberinya tugas sebagai juru kunci. Sekalipun yang menyuruh Sri Sultan HB X, tetapi Mbah Maridjan meyakini bahwa saat itu kapasitasnya sebagai Gubernur DI Yogyakarta, sehingga ia tidak akan mengikuti himbauan tersebut karena mandatnya sebagai penjaga Merapi diperoleh dari Raja, bukan Gubernur. Sehingga dalam hal ini Mbah Maridjan sama sekali tidak merasa membangkang. Baginya ketetapan untuk tidak mengungsi dan bertahan di lereng Merapi adalah untuk membantu tugas pemerintah menyelamatkan warga.
Selamat jalan Mbah Maridjan, engkau telah memberikan contoh terbaik kepada kami tentang komitmen, konsistensi dan keteguhan hati. (vit/vit)
Langganan:
Postingan (Atom)